Home / Property / Pasar Properti Indonesia

Pasar Properti Indonesia

indonesian forecast property

Pasar properti Indonesia mengalami perubahan dinamis, didorong oleh reformasi pemerintah, investasi asing, dan inisiatif perumahan nasional yang ambisius. Sektor ini tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi, menyumbang IDR 343,86 triliun terhadap PDB negara pada 2023 dan mendukung antara 13 hingga 18 juta pekerjaan. Para ahli industri, termasuk Adrianto P. Adhi dari PT Summarecon Agung Tbk, menekankan bahwa properti berperan sebagai “lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional,” memengaruhi lebih dari 185 industri terkait melalui efek berganda.

Pasar properti Jakarta menunjukkan ketahanan pada 2024, dengan kinerja kuat di sektor sewa perkantoran kelas A, di mana tingkat hunian tetap sekitar 70% di Kawasan Segitiga Emas, dan hunian rumah stabil di 71%. Permintaan ruang perkantoran premium terus meningkat sejak awal 2023, dan tarif sewa untuk ruang Grade A dan premium naik 0,7%, menandai pemulihan dari penurunan jangka panjang. Pasar kondominium juga melihat peningkatan penjualan, terutama di proyek-proyek baru seperti Two Sudirman dan LRT City Tebet, dengan pembeli lebih memilih properti yang menawarkan akses transportasi yang mudah, terutama di kawasan Bodetabek di sekitar Jakarta.

Di luar Jakarta, minat investor asing berkembang ke wilayah lain. Batam dan Bali tetap menjadi target utama, dengan Batam yang dekat dengan Singapura sangat menarik bagi investor Singapura. Pelonggaran undang-undang kepemilikan asing oleh pemerintah, khususnya melalui Undang-Undang Cipta Kerja, mempermudah warga asing memperoleh properti menggunakan hak guna bangunan (HGB), sebuah perkembangan besar yang disebut “game changer” oleh Terje H. Nilsen dari Seven Stones Indonesia. Warga asing kini dapat memiliki properti hingga 80 tahun melalui hak pakai atau HGB, asalkan memiliki izin tinggal yang sah (KITAS atau KITAP). Berlaku batas nilai properti minimum, yaitu IDR 3 miliar untuk Jakarta, antara IDR 2 miliar hingga 2,5 miliar untuk Bali dan Bandung, serta ambang lebih rendah di wilayah lain.

Katalisator utama investasi adalah inisiatif ambisius pemerintah untuk membangun 3 juta rumah terjangkau setiap tahun, yang diperjuangkan oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto. Rencana ini, yang didukung oleh empat taipan Indonesia terkemuka, telah menarik investasi asing besar, termasuk komitmen dari Qatar untuk berinvestasi dalam 1 juta rumah terjangkau, terutama unit hunian vertikal. Pemerintah juga memperpanjang pembebasan pajak untuk pembelian rumah hingga Desember 2024 untuk merangsang pasar domestik. Selain itu, pemerintah memanfaatkan lahan sitaan dari koruptor untuk memenuhi kebutuhan perumahan nasional, dengan rencana membangun 250 rumah di atas 2,5 hektar tanah yang disumbangkan oleh Menteri Perumahan.

Pengembangan proyek infrastruktur besar juga mendorong minat. Pembangunan sirkuit MotoGP Indonesia dan infrastruktur pendukungnya di Mandalika, Lombok Tengah, menjadi penggerak utama investasi di wilayah tersebut. Demikian pula, rencana redevlopment marina besar-besaran di Pulau Flores dirancang untuk menyambut kapal pesiar, feri, dan kapal pesiar, meningkatkan daya tarik pulau ini sebagai destinasi mewah. Perkembangan ini, ditambah dengan kebijakan pro-bisnis pemerintah dan populasi muda yang terus bertumbuh, menempatkan Indonesia sebagai tujuan investasi properti terkemuka di Asia, dengan para ahli mencatat stabilitas politik dan ukuran pasar yang besar sebagai keunggulan utama dibandingkan pemain regional lainnya.

Tinggalkan Balasan